Popularitas dunia hiburan Korea tidak terbatas pada musik Kpop dan drama. Industri perfilman juga
tidak ketinggalan ikut menyebar hingga ke pelosok Asia dan dunia. Bahkan
sebagian bintang ternama negeri ginseng, sukses berperan dalam film besutan sutradara
Hollywood.
Adegan film Ninja Assassin. (asianwiki)
Memang tidak mudah bagi seorang aktor asal Korea atau bahkan
Asia lainnya untuk dapat berakting dalam film Hollywood meskipun hanya sebagai cameo. Apalagi jika mendapat tanggung
jawab memerankan tokoh utama.
Namun apa yang ditunjukkan oleh ke-6 aktor berikut ini,
sudah cukup membuktikan bahwa mereka layak mengambil peran dalam film
Hollywood.
Rain (Jung Ji Hoon)
Sukses memulai debut sebagai pemeran utama di industri
perfilman Hollywood sebagai seorang ninja pembunuh dalam Ninja Assasin (2009). Nama Rain kian tenar setelah sebelumnya membintangi
beberapa film Hollywood seperti Speed
Racer (2008) dan The Prince
(2014).
Ninja Assassin (2009). (wallcoo)
Aktor multi talenta yang sukses membintangi drama Full House ini juga cukup berprestasi. Suami
aktris Kim Tae Hee, membawa pulang
penghargaan Biggest Badass Star di
tahun 2010 dalam perannya di Ninja Assasin.
Lee Byung Hun
Tidak kalah tenarnya dari Rain. Lee Byung Hun sudah
membintangi lebih dari 6 judul film Hollywood sampai tahun 2016. Sebuah pencapaian
yang sangat luar biasa bagi aktor yang memulai karirnya di Hollywood lewat
perannya sebagai Storm Shadow dalam film G.
I. Joe: The Rise of Cobra (2009).
Lee Byung Hun. (viki)
Selain itu, Lee Byung Hun juga ikut membuat sejarah membanggakan
bagi industri perfilman Korea Selatan. Dia adalah aktor Korea pertama yang diundang
ke ajang Oscar 2016. Meskipun bukan sebagai calon penerima penghargaan.
Jang Dong Gun
Jang Dong Gun (allkpop)
Setelah sukses membintangi beberapa judul drama di negeri
asalnya. Jang Dong Gun juga ikut melebarkan sayapnya ke industri hiburan
Hollywood. Dalam film aksi The Warrior’s
Way yang dirilis pada tahun 2010, ia diberi kepercayaan untuk berakting
sebagai tokoh utama.
Choi Min Sik
Choi Min Sik. (kpopstarz)
Salah satu aktor senior ini, memulai debutnya dalam industri
hiburan Hollywood lewat perannya sebagai Mr. Jang dalam film Lucy di tahun 2014. Di film ini, Choi
Min Sik ikut serta beradu akting dengan bintang ternama Hollywood macam Scarlett Johansson dan Morgan Freeman.
Lee Joon
Lee Joon.(dramafever)
Lee Joon memulai debutnya sebagai aktor tidak lewat satupun
judul film korea. Mantan personil grup musik MBLAQ ini, malah langsung terjun ke dunia akting dengan mengambil
peran sebagai Raizo muda dalam film Ninja Assassin bersama seniornya Rain.
Lee Joon Gi
Lee Joon Gi. (viki)
Lee Joon Gi ikut berperan bersama Milla Jovovich di Resident
Evil: The Final Chapter (2017). Film adaptasi dari serial video gim populer
Resident Evil ini, menampilkan Lee Joon Gi sebagai seorang antagonis yang langsung
berhadapan dengan Alice, karakter utama dalam film.
Sejak tahun 1995, nama aktor kawakan Lee Byung Hun sudah
tercetak di indsutri perfilman Korea Selatan . Lebih jauh lagi, ia bahkan sudah
memulai debutnya dalam dunia seni peran sejak tahun 1991 lewat drama ‘Asphalt
My Hometown’.
Lee Byung Hun. (viki)
Tidak hanya aktif berakting di negeri sendiri, Lee Byung Hun
juga sukses membintangi beberapa film produksi Hollywood. Hingga tahun 2017, 6
diantara lebih dari 30 judul film layar lebar yang pernah dibintanginya
merupakan garapan dari sutradara Hollywood.
Berikut enam film Hollywood yang sukses diperankan oleh
aktor kenamaan Korea Selatan Lee Byung Hun.
G. I. Joe: The Rise of Cobra (2009)
Diproduksi oleh Paramount Picture, film yang diarahkan oeh
sutrada Stephen Sommers ini terinspirasi dari waralaba action figure G. I. Joe. Lee Byung Hun berperan sebagai Storm
Shadow dan beradu akting dengan nama-nama tenar Hollywood seperti Channing Tatum, Rachel Nichols dan Sienna Millers.
Storm Shadow. (HissTanks)
Film ini berkisah tentang sebuah organisasi kriminal bernama Cobra yang memiliki rencana
untuk menyebarkan teror di bumi dan menguasai dunia. Pasukan elit bentukan Jendral
Hawk bernama G.I. Joe berupaya menggagalkan rencana jahat organisasi tersebut.
G. I. Joe: Retaliation (2013)
Film ini merupakan seri kedua dari G. I. Joe yang dirilis di
tahun 2013. G. I. Joe Retaliation juga masih mengikutsertakan Lee Byung Hun sebagai
pemeran Storm Shadow. Berbeda dengan film pertama, sutradara yang bertugas
mengarahkan film ini adalah Jon Chu. Sutrada yang dikenal lewat film Step Up 2
dan Step Up 3D.
Storm Shadow. (soompi)
Berkisah tentang tim G. I. Joe
yang hampir musnah dibantai organisasi kriminal Cobra bernama Zartan (Arnold Vosloo). Anggota G. I. Joe
tersisa yaitu Duke Hauser (Channing Tatum), Roadblock (Dwayne Johnson) dan Lady Jaye (Adrianne
Palicki) bersama Jendral Joseph Colton (Bruce Willis) berusaha
menggulingkan Commander Cobra yang telah mengontrol para pemimpin dunia.
RED 2 (2013)
RED 2 sekaligus menjadi film kedua
Lee Byung Hyun beradu akting dengan aktor senior Hollywood, Bruce Willis.Film ini mengangkat kisah seorang mantan agen CIA, Frank Moses,
yang memiliki niat untuk pensiun dari pekerjaannya dan hidup bahagia bersama
sang kekasih Sarah Ross (Mary Louise
Parker).
Pemeran film RED 2. (Joblo)
Namun, Frank yang pada awalnya
menolak menyelesaikan sebuah misi bersama Marvin (John Malkovich), akhirnya ikut terlibat. Semua ini dikarenakan
dirinya yang ditangkap atas sebuah tuduhan yang melibatkan dirinya dalam sebuah
operasi rahasia Nightshade.
Terminator Genisys (2015)
Robot T-1000.(Bintang)
Seri kelima dari film Terminator
ini kembali menghadirkan Arnold
Schwarzenegger setelah pada seri sebelumnya tidak ikut ambil bagian. Film
yang dikembangkan dari dua film Terminator terdahulu ini, menghadirkan Lee
Byung Hun yang berperan sebagai T-1000. Robot yang telah membunuh Sarah Connor
di masa lalu.
Misconduct (2016)
Adegan Lee Byung Hyun saat mengendarai motor. (soompi)
Misconduct bercerita tentang Ben (Josh Duhamel), seorang pengacara muda ambisius
yang ikut terseret ke dalam perebutan kekuasaan antara eksekutif farmasi yang
berkuasa, korup dan kejam bernama
Denning (Anthony Hopkins) dengan Abrams
(Al Pacino). Lee Byung Hun sendiri
berperan sebagai seorang akuntan.
The Magnificent Seven (2016)
Billy Rocks. (wowkeren)
Film bergenre aksi ini menawarkan
kisah heroik tentang tujuh orang dengan kemampuan yang hebat. Mereka datang
untuk membantu sebuah desa yang dikuasai dan dikendalikan oleh Bartholomew
Bogue ( Peter Sarsgaard ). Dalam
film Magnificent Seven, Lee berperan sebagai Billy Rocks. Film ini juga ikut
diperankan oleh Denzel Washington, Chris Pratt, dan Ethan Hawke.
Jadi menurut kalian film Hollywood paling sukses yang dibintangi oleh Lee Byung Hun yang mana?
Usia yang telah menua tak serta merta membatasi pikiran liar
seseorang. Bahkan untuk orang yang bergelar penyair nasional terpandang
sekalipun. Eungyo (2012) atau juga dikenal sebagai ‘A Muse’ adalah cerminan kehidupan
manusiawi seorang Lee Juk Yo (Park Hae
Il), penulis puisi renta berusia 70 tahunan.
Poster film Eungyo atau A Muse (2012). (asianwiki)
Di usia senjanya, Juk Yo hidup sendiri di sebuah rumah yang
terpisah dari kehidupan sosial masyarakat. Sang murid Seo Ji Woo (Kim Mo Yul) mesti tidak berkunjung
setiap hari, ia selalu menyempatkan diri untuk mengurus guru yang sangat
dihormatinya tersebut.
Suatu hari, rumah Juk Yo kedatangan tamu. Seorang gadis
pelajar dengan pakaian minim menggoda sedang bersantai di kursi goyang
miliknya. Eun Gyo (Kim Go Eun)
namanya. Gadis yang di kemudian hari membantu membersihkan rumah Juk Yo.
Kim Go Eun yang berperan sebagai Eun Gyo. (asianwiki)
Eun Gyo adalah inspirasi bagi Juk Yo. Sosok gadis muda dan
ceria namun sulit ditebak. Kerap kali membuat Juk Yo terperangkap dalam kehangatan
ruang hayal penuh birahi. Dalam lamunannya, Juk Yo kembali melihat dirinya
menjadi muda dan terlibat dalam adegan cinta kasih bersama Eun Gyo.
Suatu hal yang mustahil. Tapi bagi Juk Yo,
kehadiran sosok Eun Gyo berhasil memancingnya menuangkan isi pikiran serta
hasrat pribadinya ke dalam sebuah puisi yang indah. Sebuah karya sastra yang
kemudian memancing konflik antara dirinya, Ji Woo, dan Eun Gyo.
Konsep film yang sangat sederhana namun fokus cerita yang
ingin dibawa disampaikan dengan ringan. Belum lagi ditambah akting memukau dari
para pemeran dalam film. Park Hae Il begitu menjiwai perannya sebagai Juk Yo. Seakan
membuat lupa bahwa usianya kini masih terlalu muda untuk bisa menyeimbangkan
karakter kakek tua dalam adaptasi novel karangan Park Bum Shin tersebut.
Park Hae Ill berperan sebagai Lee Juk Yo. (asianwiki)
Belum lagi Kim Go Eun. Meski masih berupa artis debutan,
perannya sebagai salah satu karakter utama dalam film berhasil membawa pulang
berbagai penghargaan di industri perfilman Korea Selatan. Bukan tanpa
pengorbanan. Kim Go Eun juga harus merelakan beberapa bagian intim tubuhnya
tersorot kamera.
Pencapaian itu tentu saja tidak serta merta karena kualitas
peran yang baik. Dukungan sinematografi yang menyetuh dinding kelembutan dan
ketenangan khas orang tua dengan gamblang digambarkan dalam film. Cahaya lembut,
berkas sinar matahari yang lolos dari susunan dedaunan pohon, terasa pas
menghadirkan daya hayal seorang kakek tua Juk Yo ke dalam visual yang baik.
Terakhir, yang harus dipetik dari film ini adalah nilai dari
sebuah pemikiran tentang kehidupan kala menjadi tua nanti. Sebuah potret masa
depan seorang anak manusia yang tak bisa dihindari. Meminjam kata Juk Yo dalam
pidatonya, “masa remaja bukanlah hadiah, usia tua bukanlah hukuman”.
Terjebak dalam situasi yang sebelumnya sudah ditentukan
sendiri. Makin sulit setelah cinta yang didapatkan dari orang lain, terus
mengetuk pintu hatinya. Kemudian menjadi serba salah atas semua kehongan yang
telah dilakukannya, membuat pribadi Hye Ji (Kim Go Eun) gundah. Kira-kira
seperti itulah sedikit gambaran isi hati Hye Ji dari film melodrama korea
berjudul Canola (Gyechoonhalmang).
Poster film Korea Canola (2016). (asianwiki)
Gye Choon ( Youn Yuh Jung) adalah nenek paruh baya yang
sehari-harinya sekerja sebagai hanyeo
– perempuan penyelam di Pulau Jeju. Sepeninggalan anaknya, Gye Choon tinggal bersama
Hye Ji, cucu perempuan satu-satunya. Naas, suatu hari di pasar yang ramai, Hye
Ji hilang entah kemana. Hingga duabelas tahun setelahnya, Gye Choon dan Hye Ji
dipertemukan kembali.
Rasa canggung yang jelas terlihat di wajah Hye Ji. Dari
seorang gadis kota bertransformasi menjadi menjadi gadis desa. Sebaliknya bagi
Gye Choon, ia begitu senang dengan kembalinya cucu kesayangannya tersebut.
Seperti tak rela jika Hye Ji lepas dari genggamannya. Emosi kedua karakter ini
bisa terlihat jelas berkat peran dari kedua artis beda generasi tersebut.
Plot cerita yang lambat, tidak membuat film jadi membosankan
untuk ditonton. Susunan kisah yang sederhana tentang kasih sayang ini, cukup
baik menjaga alur cerita dengan detail tiap adegan yang begitu mudah dipahami.
Sehingga, apa yang dirasakan oleh Gye Choon dan Hye Ji bisa lebih mengalir ke
sanubari.
Hye Ji (Kim Go Eun) dan nenek Gye Choon (Youn Yuh Jung). (dramastyle)
Pilihan warna lembut serta set lokasi yang indah, begitu pas
mendukung isi film. Suasana kerukunan masyarakat pulau Jeju, kearifan lokal dan
keindahan alam adalah hal lain yang coba disampaikan ke telinga penonton.
Sekali lagi, media film benar-benar dimanfaatkan dengan bijak sebagai bahan
promosi.
Begitu banyak hal manis yang coba disampaikan dalam film
ini, salah satunya adalah makna dari sebuah keluarga. Memang, air takkan pernah
sekental darah. Orang tidak bisa memilih di mana dia dilahirkan, tapi keluarga
bukan sesuatu yang kita dapat hanya karena terlahir sebagai keluarga. Karena
keluarga adalah tempat berbagi, dengan siapapun yang sudah mencurahkan kasih
sayangnya kepada kita.
Nama Jun Ji Hyun atau Gianna Jun tidaklah asing di industri
perfilman Korea. Memulai debut di usia 19 tahun, sudah banyak judul film yang sukses
diperankan olehnya.
Jun Ji Hyun . (kpopzone)
Diantaranya adalah film bergenre romantis seperti My Sassy
girl. Salah satu judul film yang ikut melambungkan namanya dalam deretan aktris
papan atas negeri ginseng.
Berikut daftar 5 film bergenre romantasi yang diperankan
oleh Jun Ji Hyun yang wajib ditonton.
1. My Sassy Girl
(2001)
My Sassy Girl. (soompi)
Beradu akting dengan Cha Taehyun, film My Sassy Girl sukses
meduduki peringkat atas film terlaris di jamannya. Film ini berkisah tentang
Gyun Woo, seorang mahasiswa yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang
gadis yang mabuk di kereta.
Pertemuan mereka kemudian mengubah takdir Gyun Woo. Hingga
hubungan yang aneh kemudian terjalin diantara keduanya.
Sukses My Sassy Girl tidak hanya meliputi Asia, namun juga
dunia internasional. Hingga Hollywood sempat membuat ulang di tahun 2008 dan
diberi judul sama.
2. Windstruck (2004)
Windstruck. (asianwiki)
Dalam film ini, Jun Ji Hyun berperan sebagai seorang polisi
muda bernama Kyung Jin. Suatu hari ia secara tidak sengaja salah menangkap
pelaku pencurian.
Kyung Jin salah sangka dengan Myung Wo (Jang Hyuk), seorang
guru fisika yang ingin menangkap pelaku kejahatan tersebut. Dari sinilah kisah
cinta keduanya dimulai.
Film bergenre romantis, komedi, fantasi dan aksi ini,
merupakan cikal bakal dari film sebelumnya Jun Ji Hyun, yaitu My Sassy Girl.
Meskipun jalan ceritanya sedikit tidak nyambung.
3. Daisy (2006)
Daisy. (koreanfilm org)
Berbeda dari dua film sebelumnya. Daisy lebih mengangkat
kisah drama romantis serta thriller. Mengisahkan
seorang pelukis korea bernama Hye Young, terlibat kisah cinta segitiga.
Jung Woo Sung yang berperan sebagai Park Yi, seorang
penembak jitu tak sengaja bertemu dengan Hye Young di jalanan Amsterdam. Lokasi
Park Yi melukis. Tiap harinya ia selalu mengirimkan bunga.
Park Yi sendiri menyangka bahwa Jung Woo (Lee Sung Jae),
seorang interpol, pengagum rahasianya selama ini. Kisah cinta segitiga pun
kemudia merebak diantara ketiganya.
4. Il Mare (2000)
Il Mare. (asianwiki)
Il Mare dalam bahasa Italia bisa diartikan sebagai ‘Laut’.
Set lokasi rumah yang menjadi tempat cerita ini berlangsung. Film ini bercerita
tentang dua orang yang hidup di waktu yang berbeda namun di rumah yang sama.
Eun Joo dan Sung Hyun (Lee Jung Jae) lalu berkomunikasi
dengan surat yang diletakkan di dalam sebuah kotak surat. Kotak ini secara
ajaib bisa melintasi waktu dan menjadi penghubung diantara keduanya.
Sama seperti My Sassy Girl, Il Mare turut dibuat ulang versi
Hollywoodnya. Dibuat dua tahun lebih awal dari My Sassy Girl, tepatnya di tahun
2006 yang diberi judul The Lake House.
5. White Valentine (1999)
White Valentine. (hancinema)
White Valentine adalah film yang menandai debut Jun Ji Hyun
sebagai aktris film. Berperan sebagai Jung Min, ia beradu akting dengan Park
Shin Yang yang memerankan Hyun Jun.
Tanpa sengaja kisah cinta keduanya terjalin lewat surat. Surat
yang berisi pesan yang dibawa oleh seekor burung merpati. Beberapa tahun
kemudian, mereka bertemu meski tanpa mengenali wajah masing-masing.
Jadi, mana nih film romantis Jun Ji Hyun yang kalian favoritkan?
Lewat satu kejadian di malam pergantian tahun, merubah nasib
dua orang. Dengan dua latar tahun berbeda, yaitu di tahun 1983 dan 2015, dua
orang terhubung setelah masing-masing kejadian hampir merenggut jiwa.
Poster film korea Time Renegades (2016). (asianwiki)
Di tahun 1983, setelah melamar sang pacar, seorang guru
musik hampir tewas ditusuk pencopet kala bermaksud mengejarnya karena kedapatan
mencuri dompet sang pacar. Di masa depan, tepatnya tahun 2015, seorang polisi yang
juga secara kebetulan sedang mengejar pelaku kriminal hingga timah panas menembus
perutnya.
Setelah melewati masa kritis, keduanya mulai merasakan mimpi
yang aneh. Mereka seolah terhubung. Di tahun 2015, Gun Woo (Lee Jin Wook)
bertemu dengan Soo Eun (Lim Soo Jung), wanita yang sama dengan yang dia lihat
dalam mimpinya. Salah satu pemicu yang membuatnya terlibat untuk membongkar
kasus pembunuhan berantai 30 tahun lalu.
Sementara Ji Hwan (Cho Jung Suk) di tahun 1983, menggunakan
pesan dari Gun Woo. Lewat mimpi, dia berusaha untuk menghentikan pelaku
sebenarnya setelah tewasnya Yoon Jung (Lim Soo Jung). Sebuah kasus kriminal
yang harus diselesaikan demi mengubah nasib mereka di masa depan.
Soo Rin adalah seorang gadis penyendiri. Hidupnya penuh dengan rasa ingin tahu bahkan untuk hal-hal supranatural sekalipun. Hingga teman-teman sebanyanya menganggapnya aneh. Tapi tidak bagi Sung min. Seorang anak laki-laki, kakak kelas yang berbeda setingkat diatasnya.
Poster film korea Vanishing Time: A Boy Who Returned (2016). (soompi)
Bisa jadi karena sama-sama piatu. Atau mungkin mereka punya ketertarikan yang sama, sampai-sampai berani melakukan ritual pemanggilan arwah di rumah kosong. Atau, karena Sung Min peka dengan kegalauan hati Soo Rin.
Interaksi yang dibangun diantara karakter Soo Rin dan Sung Min begitu terasa nyata. Tampak tidak ada keraguan dari Shin Eun Soo meski untuk pertama kalinya bertindak sebagai pemeran utama. Ia sukses memberi nyawa dalam karakter Soo Rin. Begitu pula, Lee Hyo Je ketika berakting jadi Sung Min.
Adegan ciuman monyet dilakukan tak kaku sama sekali. Terkesan murni, polos dan khas anak-anak. Namun, semua itu bukanlah fokus dari cerita. Film ini akan benar-benar dimulai ketika Soo Rin, Sung Min, Tae Sik dan Jae Wook menemukan telur monster di lubang dekat areal pembangunan terowongan.
Unsur fantasi mengambil peran di sini. Konon, gua yang muncul setiap bulan purnama tersebut, terdapat telur yang bisa menghentikan waktu. Ketiga anak laki-laki benar-benar terjebak dalam ruang waktu.
Dunia imaji diwujudkan dengan sempurna oleh sang sutradara. Mulai dari mahluk hidup dan benda-benda yang tak bergerak. Keceriaan Sung Min, Tae Sik dan Jae Wook juga ikut tergambar dari apa yang mereka rasakan ketika dunia menjadi milik sendiri sampai rasa frustasi yang harus mereka lalui.
Dititik ini, Soo Rin yang tetap di umurnya, bertemu Sung Min yang berbeda. Sebab, hampir dua dasawarsa Sung Min dewasa (Kang Dong Won) telah hidup dalam dunia waktu yang terhenti. Dan ketika dia kembali, hanya Soo Rin lah satu-satunya yang percaya. Ini karena, diari dengan huruf rahasia yang hanya diketahui mereka.
Pro dan kontra publik dalam film, bisa saja mengalihkan penonton dengan suasana yang dibangun oleh alur maju mundur film ini. Ada saat di mana kita bisa saja terjebak dalam pandangan yang sama dengan persepsi pihak kepolisian ataupun masyarakat, apakah Soo Rin sebenarnya sedang dipengaruhi oleh Sung Min dewasa.
Pada akhirnya, kisah ini adalah hasil dari wawancara seorang psikolog sekaligus penulis buku. Terlepas nyata atau tidaknya, bagi seorang Soo Rin anak laki-laki yang pernah hidup dalam ruang waktu itu adalah sahabatnya. Orang yang berjanji akan selalu mencintainya sampai kapanpun.
Berikut selipan trailer film korea Vanishing Time: A Boy Who Returned (2016).
Melupakan seseorang setelah 10 tahun berlalu bukanlah perkara muda bagi Nam Chul Woong (Son Ho Jun) saat Yo Shin (diperankan Seo Yeji) harus merenggang nyawa karena kenaifan yang dilakukannya waktu itu. Memang, yang dialami Yo Shin sungguh tak pernah diduga sebelumnya oleh tunanganya tersebut. Hingga kini, Chul Woon masih hidup dengan penyesalannya.
Poster film Circle of Atonement (2015). (asianwiki)
10 tahun yang lalu, tepatnya hari ulang tahun Ki Jung (Choi Yoo Ri). Ayah Ki Jung, Ji Chul (Lim Hyung Joon), datang memberi kado namun sang ibu yang sudah trauma dengan rekam jejak ayahnya sebagai seorang residivis sama sekali tidak memberi izin masuk bahkan sekedar mengucapkan selamat ulang tahun buat anaknya.
Ji Chul marah, emosinya ikut terbawa pas bekerja. Ugal-ugalan mengemudi taksi, ditambah curhatan tidak jelas, tentunya membuat para penumpangnya kesal. Salah satunya bahkan melempar beberapa lembar uang ke wajahnya. Bukannya mereda, Ji Chul makin naik pitam.
Yo Shin yang pada saat bersamaan sengaja ditinggalkan Chul Woong di pinggir jalan, masih belum mendapatkan taksi ketika bertemu dengan Ji Chul. Digiring ke rumah kosong tapi sempat melarikan diri dengan luka tusukan di perut, perjuangan Yo Shin tak berbayar. Ji Chul nekat membunuhnya meskipun tanpa alasan yang jelas.
Detektif Lee Sang Won (Sung Dong Il) yang mengusut kasus pembunuhan tersebut, mencurigai Ji Chul akan datang ke rumah mantan istrinya. Benar saja, di malam harinya ibu Ki Jung terbunuh. Detektif Sang Won yang terlibat dalam kejadian merasa bersalah, dia kemudian merawat Ki Jung sebagai anaknya dan mengganti Ki Jung menjadi Jung Hyun.
10 tahun kemudian, takdir seakan mengikat jalan hidup orang-orang ini. Chul Woong, seorang guru sastra korea sekaligus menjadi wali kelas bagi Jung Hyun. Tiap kali melihat Jung Hyun, Chul Woong seakan melihat wajah pembunuh Yo Shin, Ki Jung, ayah kandung Jung Hyun. Benar saja, naluri Chul Woong memang terbukti. Dari sinilah kisah dalam film ini difokuskan.
Ulasan
Circle of Atonement menjadi pilihan judul yang lebih tepat menggambarkan maksud dari seluruh isi cerita tentang penyesalan dan tragedi dalam satu bingkai yang sama dibandingkan judul sebelumnya, Joy. Satu alasan yang cukup masuk akal, karena karakter Chul Woong seakan merupakan fokus dalam film ini.
Aspek menyimpan dendam kepada seseorang untuk waktu yang lama disampaikan sangat baik dalam film ini. Para pemeran yang terlibat tampak alami, dan membuat jalannya cerita menjadi seperti nyata. Chul Woong yang sama sekali tidak pernah terbersit niat untuk melupakan tunangannya, terus mencari cara membalaskan dendamnya. Jung Hyun yang harus menerima detektif sebagai ayahnya, pada saat yang bersamaan menyimpan benci. Begitupula bagi Detektif Lee.
Sebenarnya, tidak sulit untuk menerka jalan cerita dalam film ini, jika saja beberapa adegan penting tidak sengaja disimpan untuk menjaga alur film. Sebab film ini cukup mudah dimengerti. Sayangnya, ada banyak potongan adegan yang tak seharusnya dihilangkan. Hal ini malah menambah kabur jalan ceritanya. Ide cerita yang dibangun sedari awal jadi sia-sia karena penyelesaian akhir yang kurang mulus.
Film Guardians of Night atau 王牌御史之獵妖教室 (Wang Pai Yu Shi Zhi Lie Yao Jiao Shi) adalah film mandari yang diadaptasi berdasarkan novel berjudul serupa. Film ini mengambil genre fantasi, komedi, aksi dan horor.
Poster film Guardians of Night (2016). (hkcinema)
Dahulu kala, dikisahkan terdapat perjanjian antara umat manusia dan iblis. Manusia hidup di siang hari dan iblis pada malam hari. Akan tetapi perjanjian ini sepertinya tidak lagi berjalan harmonis. Karena para iblis licik yang bersekongkol untuk melawan umat manusia.
Untuk menyelamatkan ras manusia, sang pengintai malam dan peri tanpa nama berjalan melintasi dua dunia untuk menyingkirkan mahluk jahat tersebut dan menjaga kedamaian manusia. Mereka kemudian disebut Guardians of Night (Sang Penjaga Malam).
Saat kegelapan tiba, para iblis coba menguasai Universitas Xiahou. Para iblis membuat koloni dengan memperbudak manusia. Mereka memanipulasi kekuatan dan menghisap intisari manusia dengan tatapan mata. Hanya manusia yg diberkati kemampuan khusus yang takkan terperdaya, termasuk tiga orang terpilih.
Kampus menjadi incaran iblis karena disembunyikan sebuah gem berupa bola kristal milik Divisi Malam tempat para penjaga malam bernaung. Divisi Malam sendiri diketuai oleh Direktur Kampus. Kebetulan saat itu beliau sedang tidak berada di lokasi.
Jika bola kristal jatuh ke tangan iblis maka bisa saja memicu malapetaka. Saat itulah ketiga orang terpilih -diantaranya Yu Yen atau sang pengintai malam, Carol atau si peri tanpa nama dan Bryan si tukang roh hanya melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain- melaksanakan tugasnya.
Komedi dan Adegan Aksi
Film Guardians of Night sejatinya cukup kocak di separuh awal film. Sayangnya, film yang dibintangi oleh Zheng Ye Chen (Yu Yen), Jian Chun Qi (Carol) dan Chai Hao Wei (Bryan) menjadi sedikit membosankan setelahnya. Mungkin karena plot cerita yang terlalu cepat.
Salah satunya, saat adegan drama persahabatan ketika Bryan yang saat itu tak terpedaya iblis, mencoba menyadarkan Wyaat, anak buahnya, yang telah dirasuki iblis. Adegan ini terkesan terlalu cepat dan terburu-buru dengan menempatkannya di awal film.
Untuk adegan aksi, mayoritas dibalut dengan unsur komedi khs film-film Jackie Chan sudah sangat menghibur. Tidak ketinggalan, beberapa adegan terhenti di udara cukup sering mewarnai film ini.
Terselip juga pesan moral dari film. Saat karakter penjahat utama, si culun yang sempat ganggu Bryan memilih menjadi iblis jahat karena selama bertahun-tahun dia sendiri karena tidak ada yang mau berteman dengannya sehingga ia ingin menjadikan semua orang menjadi budaknya.
Berikut trailer dari film Guardians of Night (2016).
My Annoying Brother, atau Hyung, adalah film bergenre drama dan komedi yang diperankan oleh Jo Jung Seok sebagai si kakak (hyung) Doo Sik dan Do Kyung Soo sebagai Doo Young, sang adik. Tak ketinggalan, aktris Park Shin Hye juga ikut ambil bagian dalam film ini dengan berperan sebagai Soo Hyun, seorang pelatih judo.
Poster film My Annoying Brother (2016). (CJ entertainment)
Doo Young merupakan seorang atlet judo potensial yang harus pensiun dini akibat kerusakan pada indera penglihatannya saat pertandingan. Mengetahui hal itu, Doo Sik yang dipenjara karena kasus penipuan, mengajukan surat permohonan banding dengan dalih merawat adiknya yang tunanetra. Tidak sia-sia, permohonannya berhasil dikabulkan.
Doo Sik diharuskan merawat adiknya, sebagai jaminan ketika bebas bersyarat dari penjara. Sebab kedua orangtua mereka telah meninggal sejak Doo Young remaja. Namun, hal ini tidak berjalan semulus yang dipikirkan Doo Sik. Doo Young, enggan menerima kedatangannya. Suasana dalam rumah menjadi kurang harmonis.
Doo Young sempat dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuh yang menurun setelah hampir berhari-hari cuman memakan mi instan kering. Untungnya, Soo Hyun sebagai mantan pelatih judo Doo Young, masih terus memperhatikannya. Soo Hyun bahkan menegur Doo Sik agar lebih peduli dengan adiknya.
Tak sampai di situ, Soo Hyun gigih menyarankan Doo Young agar tetap berlatih sebagai atlet. Soo Hyun beralasan masih terdapat kejuaran tingkat dunia untuk atlet berkebutuhan khusus seperti Paralimpiade. Meski sering ditolak Doo Young semata-mata karena rasa putus asanya sebagai seorang yang sudah tidak lagi bisa melihat.
Walau sering terlihat acuh pada adiknya begitupun sebaliknya bagi sang adik, Doo Young. Ternyata keduanya masih memiliki rasa saling menyayangi layaknya saudara. Doo Sik kemudian bertekad menumbuhkan kepercayaan diri adiknya dengan menerima kenyataan sebagai seorang tunanetra. Doo Sik juga ikut mendorong sang adik kembali berlatih untuk kejuaraan Paralimpiade.
Ada Tangisan dalam Kebahagian
Unsur komedi dalam film My Annoying Brother sukses memancing gelak tawa. Salah satunya ketika Doo Sik membawa Doo Young ke sebuah klub malam yang pada akhirnya akan disesali Doo Young. Tak berhenti sampai disitu, kerjasama mereka saat mengerjai seorang orang kaya di toko, juga patut diberi apresiasi.
Gaya Doo-sik dan Doo-young di klub malam. (CJ entertainment)
Seringkali mencuri atensi penonton, kehadiran Dae Chang (Kim Kang Hyun) sebagai karakter pendukung juga tidak boleh dikesampingkan. Dae Chang sukses menggiring canda tawa dengan beragam profesi yang dijalaninya.
Bukan semata-mata komedi, film ini tetap mengusung tema drama khas film korea. Penonton seakan dibuat menyatu dengan apa yang dirasakan oleh Doo Sik ataupun Doo Young. Begitu menguras air mata setelah dibuat tertawa sebelumnya.
Perjuangan Doo Sik untuk mendapatkan medali emas dalam ajang Paralimpiade nomor Judo. Seperti hangus dengan minimnya waktu yang ingin dihabiskan bersama sang kakak yang ternyata sangat dirindukannya setelah minggat dari rumah dan kembali di masa sulitnya.
Sebagai orangtua tunggal, bekerja sambil mengurus anak bukanlah perkara mudah. Itulah yang harus dihadapi Ji Sun (Uhm Ji Won) setelah menceraikan suaminya. Ji Sun kemudian mempercayakan anaknya, Da Eun kepada seorang pengasuh bayi keturunan Korea Tiongkok bernama Han Mae (Gong Hyo Jin).
Poster film Missing (2016). (AsianWiki)
Suatu hari setelah pulang bekerja, Ji Sun tak lagi melihat pengasuh serta putrinya. Mulanya dia sama sekali tak menaruh rasa curiga sedikitpun. Namun, sering waktu, si pengasuh dan putrinya belum kembali juga.
Ji Sun bahkan sempat datang ke kantor polisi untuk melaporkan perihal kehilangan anaknya. Akan tetapi dia kemudian sadar bahwa apa yang dia lakukan ini kemungkinan akan berakibat buruk untuknya. Sebab, hak asuh Da Eun sedang diperebutkan dengan mantan suaminya.
Ji Sun kemudian memutuskan untuk mencari sendiri keberadaan putrinya. Dari situlah satu persatu tirai kehidupan Han Mae, pengasuh anaknya mulai terungkap.
Ulasan Singkat
Missing atau dalam judul korea "Missing: Sarajin Yoeja" merupakan film yang menyoroti kehidupan urban masyarakat korea. Salah satu pesan yang coba disajikan dalam film bergenre misteri ini adalah kehidupan wanita karir yang terus sibuk pekerjaannya lalu meninggalkan sang anak bersama pengasuh.
Tak terbatas sampai disitu, film ini juga menyoroti seputar kebijakan rumah sakit yang lebih mementingkan kepentingan orang berduit daripada masyarakat dari kalanganan menengah kebawah. Hal inilah yang selanjutnya menjadi pemicu konflik dalam setiap kejadian di film.
Rumitnya akses atas berbagai fasilitas kesehatan juga tidak lepas menjadi sorotan. Sebagian masyarakat selain warga negara harus memiliki jaminan terlebih dahulu. Pesan-pesan moral dalam film yang cukup kental mengkrikit rumitnya sistem yang ada.
Satu kekurangan minor dalam film ini adalah labilnya penulis skenario membangun profil Han Mae. Serta, tidak jelasnya peran Hyun Ik (Park Hae Jun) selain sebagai whistleblower diakhir film. Selain itu, alasan polisi mengindahkan pelaku pemerasan Ji Sun juga tidak terlalu kuat dan tak jelas nasibnya sampai film berakhir.